Pengertian
ekstrinsik adalah sifat baik dari
suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (“instrumental!
Contributory value”), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.
Contohnya : puisi, bentuk puisi yang terdiri dari
bahasa, diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik
Pengertian
intrinsic adalah sifat baik dari
benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan
benda itu sendiri.
Contohnya : pesan puisi yang ingin disampaikan kepada
pembaca melalui (alat benda) puisi itu disebut nilai intrinsik .
Nilai
keindahan instrinsik adalah nilai bentuk seni yang dapat
diindera dengan mata, telinga atau keduanya. Nilai bentuk ini kadang juga
disebut nilai struktur yaitu bagaimana cara menyusun nilai-nilai ekstrinsiknya
atau bahannya berupa rangkaian peristiwa. Semuanya disusun begitu rupa sehingga
menjadi sebuah bentuk yang berstruktur dan dinamai nilai instrinsik. Cara
menyusun bentuk tadi melahirkan sebuah cerita. Kumpulan peristiwa yang sama
oleh dua orang penulis mungkin saja disusun berdasarkan urutan atau struktur
yang berbeda, sehingga nilai seninya juga berbeda. Cara menyusun yang berbeda
ini menentukan arti ekstrinsiknya atau isi seni.
Cara
kerja yang demikian itulah yang menyebabkan setiap seniman dapat menciptakan
karya seni yang secara instrinsik berbeda-beda berdasarkan
pengolahan ekstrinsiknya. Inilah pula yang menyebabkan
keindahan karya seni bukan melulu keindahan bentuk atau instrinsiknya, tetapi
juga menyangkut nilai ekstrinsiknya misalnya cara menggambar
daun jatuh oleh dua penyair dapat menghasilkan dua keindahan yang berbeda. Ini
disebabkan oleh karena cara instrinsik atau cara melukiskan jatuhnya daun tadi
berbeda berdasarkan visi atau pandangan penyair terhadap bahannya, yakni
jatuhnya daun.
Karya
seni tetap harus mengandung keindahan dalam pengertian menyenangkan inderawi
dan menggembirakan batin seperti pemandangan alam. Hanya saja
dalam karya seni masih ditambah dengan penyampaian makna. Pemandangan tak
berkata apa-apa atau tidak menyampaikan pesan apa-apa, tetapi setiap karya seni
selalu menyampaikan sesuatu. Dan, aspek sesuatu atau bahan atau isi seni
tidaklah yang menyebabkan lahirnya perdebatan mengenai indah atau tidaknya
karya seni.
Tetapi, adakah karya seni yang tidak indah ? misalnya
lukisan mayat, sampah, daging tersayat, kematian, kengerian. Itu hanya objek
ekstrinsiknya belaka, sebagai objek tentu saja kaki berkoreng itu tidak indah,
malah menjinjikan atau menakutkan, mendatangkan teror. Tetapi cara pandang
pelukis atau penyair terhadap kaki berkoreng tadi dapat indah dengan caranya
menyusun bentuk strukturnya. Cara menggambarkan kaki berkoreng tadi
menyampaikan suatu makna, pesan, maksud, pandangan tentang hidup ini sehingga
hasil gambarannya tadi menjadi indah dalam arti menggembirakan batin. Suatu
lukisan yang penuh teror, kekasaran dan kekacauan dapat tampak indah karena
teror yang digambarkan tadi menyampaikan isi atau makna yang menggembirakan
aspek intelektual kita, misalnya.
Jadi setiap karya seni tentu mengandung keindahan. Dan
keindahan tidak selalu harus senada dengan keindahan pemandangan alam yang
halus, halus, menentramkan, indah tidak harus lembut, halus, teratur, seimbang.
Indah juga terwujud dalam bentuk kasar, keras, kacau dan tak seimbang atau tak
harmonis, asal membawakan suatu makna. Makna ekstrinsik itulah yang menyebabkan
sebuah karya seni dikatakan indah, menyenangkan inderawi dan menggembirakan
batin. Bentuk kasar penuh teror yang kacau tadi terwujud karena tuntutan
ungkapan ekstrinsiknya. Tuntutan ini seni atau bahan seni (yang berhubungan
dengan pandangan seniman) itulah yang melahirkan bentuk yang tidak indah.
Jelaslah bahwa keindahan seni berhubungan dengan unsur ekstrinsik dan
instrinsik sekaligus. Keduanya dapat dibedakan tetapi tak mungkin dipisahkan.
Dalam membicarakan unsur ekstrinsik, kita juga berbicara tentang unsur intrinsiknya
dan sebaliknya (Jacob Sumardjo. 2000 ; 155 – 157).
Demikian
banyaknya hasil seni budaya dengan menggunakan pendekatan ekstrinsik dan
pendekatan intrinsik melalui proses penghayatan kita dapat mengetahui alasan
mereka atau seniman menciptakan keindahan melalui hasil seni. Kalau Bagong
Kussudiarjo ditanya mengapa ia menciptakan berbagai kreasi tarian baru yang
menggambarkan kehidupan nelayan, petani, buruh pabrik, tentu ada berbagai macam
jawaban mungkin ia ingin mengabadikan kegiatan masing-masing pekerjaan itu pada
zamannya. Karena kelak apabila teknologi maju memasuki wilayah itu kegiatan
mereka itu akan lain bentuknya. Atau mungkin ia ingin menunjukkan kepada
masyarakat bahwa keindahan itu tidak hanya dapat di kota-kota saja, dan yang
menggemari keindahan itu bukan hanya para cendikiawan saja, tetapi di
masyarakat, nelayan, buruh pabrik dan petani yang setiap hari berjuang demi
sesuap nasi-pun merindukan keindahan.
Kesimpulan dan Pendapat
Keindahan tidak hanya ada pada sosok benda atau makhluk
hidup yang dianggap bagus dan enak dilihat oleh mata, tapi keindahan itu juga
dari semua benda, makhluk hidup, alam, karya seni dan sebagainya. Keindahan
tidak hanya sesuatu yang dinikmati oleh indra pengelihatan, tapi juga oleh
semua indra yang kita miliki, seperti rasa, sentuhan, suara, dan wewangian. Itu
semua bisa disebut keindahan, tergantung orang yang merasakannya, karena
keindahan merupaka sesuatu yang subjektif atau tidak pasti.
Dalam artikel di atas telah dijelaskan bahwa keindahan
terbagi menjadi dua jenis. Mungkin yang selama kita pahami dan mengerti adalah
keindahan yang hanya kita rasakan mengenai panca indra saja, keindahan semacam
itu disebut sebagai Keindahan Ekstrinsik. Sedangkan Keindahan Intrinsik adalah
keindahan yang dihasilkan dari suatu benda berdasarkan manfaatnya (benda yang
dimaksudkan tidak hanya benda mati, tapi yang disebutkan di atas), manfaat yang
dihasilkan juga termasuk manfaat untuk benda itu sendiri.
Sedikit contoh untuk memperjelas, Jika kita melihat
pemandangan yang indah dari atas gunung maka itu adalah Keindahan
Ekstrinsiknya, sedangkan alam yang menghasilkan oksigen yang bermanfaat untuk
makhluk hidup lain dan alam itu sendiri merupakan Keindahan Intrinsiknya, Pengertian
ekstrinsik adalah sifat baik dari
suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (“instrumental!
Contributory value”), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.
Contohnya : puisi, bentuk puisi yang terdiri dari
bahasa, diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik
Pengertian
intrinsic adalah sifat baik dari
benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan
benda itu sendiri.
Contohnya : pesan puisi yang ingin disampaikan kepada
pembaca melalui (alat benda) puisi itu disebut nilai intrinsik .
Nilai
keindahan instrinsik adalah nilai bentuk seni yang dapat
diindera dengan mata, telinga atau keduanya. Nilai bentuk ini kadang juga
disebut nilai struktur yaitu bagaimana cara menyusun nilai-nilai ekstrinsiknya
atau bahannya berupa rangkaian peristiwa. Semuanya disusun begitu rupa sehingga
menjadi sebuah bentuk yang berstruktur dan dinamai nilai instrinsik. Cara
menyusun bentuk tadi melahirkan sebuah cerita. Kumpulan peristiwa yang sama
oleh dua orang penulis mungkin saja disusun berdasarkan urutan atau struktur
yang berbeda, sehingga nilai seninya juga berbeda. Cara menyusun yang berbeda
ini menentukan arti ekstrinsiknya atau isi seni.
Cara
kerja yang demikian itulah yang menyebabkan setiap seniman dapat menciptakan
karya seni yang secara instrinsik berbeda-beda berdasarkan
pengolahan ekstrinsiknya. Inilah pula yang menyebabkan
keindahan karya seni bukan melulu keindahan bentuk atau instrinsiknya, tetapi
juga menyangkut nilai ekstrinsiknya misalnya cara menggambar
daun jatuh oleh dua penyair dapat menghasilkan dua keindahan yang berbeda. Ini
disebabkan oleh karena cara instrinsik atau cara melukiskan jatuhnya daun tadi
berbeda berdasarkan visi atau pandangan penyair terhadap bahannya, yakni
jatuhnya daun.
Karya
seni tetap harus mengandung keindahan dalam pengertian menyenangkan inderawi
dan menggembirakan batin seperti pemandangan alam. Hanya saja
dalam karya seni masih ditambah dengan penyampaian makna. Pemandangan tak
berkata apa-apa atau tidak menyampaikan pesan apa-apa, tetapi setiap karya seni
selalu menyampaikan sesuatu. Dan, aspek sesuatu atau bahan atau isi seni
tidaklah yang menyebabkan lahirnya perdebatan mengenai indah atau tidaknya
karya seni.
Tetapi, adakah karya seni yang tidak indah ? misalnya
lukisan mayat, sampah, daging tersayat, kematian, kengerian. Itu hanya objek
ekstrinsiknya belaka, sebagai objek tentu saja kaki berkoreng itu tidak indah,
malah menjinjikan atau menakutkan, mendatangkan teror. Tetapi cara pandang
pelukis atau penyair terhadap kaki berkoreng tadi dapat indah dengan caranya
menyusun bentuk strukturnya. Cara menggambarkan kaki berkoreng tadi
menyampaikan suatu makna, pesan, maksud, pandangan tentang hidup ini sehingga
hasil gambarannya tadi menjadi indah dalam arti menggembirakan batin. Suatu
lukisan yang penuh teror, kekasaran dan kekacauan dapat tampak indah karena
teror yang digambarkan tadi menyampaikan isi atau makna yang menggembirakan
aspek intelektual kita, misalnya.
Jadi setiap karya seni tentu mengandung keindahan. Dan
keindahan tidak selalu harus senada dengan keindahan pemandangan alam yang
halus, halus, menentramkan, indah tidak harus lembut, halus, teratur, seimbang.
Indah juga terwujud dalam bentuk kasar, keras, kacau dan tak seimbang atau tak
harmonis, asal membawakan suatu makna. Makna ekstrinsik itulah yang menyebabkan
sebuah karya seni dikatakan indah, menyenangkan inderawi dan menggembirakan
batin. Bentuk kasar penuh teror yang kacau tadi terwujud karena tuntutan
ungkapan ekstrinsiknya. Tuntutan ini seni atau bahan seni (yang berhubungan
dengan pandangan seniman) itulah yang melahirkan bentuk yang tidak indah.
Jelaslah bahwa keindahan seni berhubungan dengan unsur ekstrinsik dan
instrinsik sekaligus. Keduanya dapat dibedakan tetapi tak mungkin dipisahkan.
Dalam membicarakan unsur ekstrinsik, kita juga berbicara tentang unsur intrinsiknya
dan sebaliknya (Jacob Sumardjo. 2000 ; 155 – 157).
Demikian
banyaknya hasil seni budaya dengan menggunakan pendekatan ekstrinsik dan
pendekatan intrinsik melalui proses penghayatan kita dapat mengetahui alasan
mereka atau seniman menciptakan keindahan melalui hasil seni. Kalau Bagong
Kussudiarjo ditanya mengapa ia menciptakan berbagai kreasi tarian baru yang
menggambarkan kehidupan nelayan, petani, buruh pabrik, tentu ada berbagai macam
jawaban mungkin ia ingin mengabadikan kegiatan masing-masing pekerjaan itu pada
zamannya. Karena kelak apabila teknologi maju memasuki wilayah itu kegiatan
mereka itu akan lain bentuknya. Atau mungkin ia ingin menunjukkan kepada
masyarakat bahwa keindahan itu tidak hanya dapat di kota-kota saja, dan yang
menggemari keindahan itu bukan hanya para cendikiawan saja, tetapi di
masyarakat, nelayan, buruh pabrik dan petani yang setiap hari berjuang demi
sesuap nasi-pun merindukan keindahan.
Kesimpulan dan Pendapat
Keindahan tidak hanya ada pada sosok benda atau makhluk
hidup yang dianggap bagus dan enak dilihat oleh mata, tapi keindahan itu juga
dari semua benda, makhluk hidup, alam, karya seni dan sebagainya. Keindahan
tidak hanya sesuatu yang dinikmati oleh indra pengelihatan, tapi juga oleh
semua indra yang kita miliki, seperti rasa, sentuhan, suara, dan wewangian. Itu
semua bisa disebut keindahan, tergantung orang yang merasakannya, karena
keindahan merupaka sesuatu yang subjektif atau tidak pasti.
Dalam artikel di atas telah dijelaskan bahwa keindahan
terbagi menjadi dua jenis. Mungkin yang selama kita pahami dan mengerti adalah
keindahan yang hanya kita rasakan mengenai panca indra saja, keindahan semacam
itu disebut sebagai Keindahan Ekstrinsik. Sedangkan Keindahan Intrinsik adalah
keindahan yang dihasilkan dari suatu benda berdasarkan manfaatnya (benda yang
dimaksudkan tidak hanya benda mati, tapi yang disebutkan di atas), manfaat yang
dihasilkan juga termasuk manfaat untuk benda itu sendiri.
Sedikit contoh untuk memperjelas, Jika kita melihat
pemandangan yang indah dari atas gunung maka itu adalah Keindahan
Ekstrinsiknya, sedangkan alam yang menghasilkan oksigen yang bermanfaat untuk
makhluk hidup lain dan alam itu sendiri merupakan Keindahan Intrinsiknya.